Fathimah
Az Zahra
Fatimah Az Zahra adalah anak perempuan ke empat
pasangan Rasulullah dan Ummul mu'minin Khadijah. (Rasulullah dan Siti Khadijah
dikaruniai empat orang putri; Zeinab, Raqayyah, Ummi Kultsum dan Fatimah).
Fatimah dilahirkan ketika kaum quraisy merenovasi ka'bah (pada saat itu
Rasulullah yang dikenal dengan julukan Al Amin –orang yang dipercaya-berhasil
menggagalkan peperangan antara kelompok quraisy).Tepatnya 20 jumadil akhir lima
tahun sebelum bi'tsah (turun wahyu kepada rasulullah).
Dalam beberapa riwayat dijelaskan bahwasanya Fatimah
adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah (kelak setelah lahirnya Hasan
bin Abi Thalib bin Fatimah bin Muhammad, Hasanlah orang yang paling mirip
dengan Rasulullah), di antaranya adalah apa yang dikatakan 'Aisyah: "Tidak
ada yang mirip Rasulullah dalam cara berjalan dan bertutur kata kecuali
Fatimah", Dalam riwayat lain Ummul Mu'minin Ummu Salamah mengatakan:
"Fatimah bintu Rasulillah adalah orang yang paling mirip wajahnya dengan Rasulullah."
Hal ini ditegaskan oleh Anas bin Malik dalam salah satu riwayatnya:
"Fatimah sangat mirip dengan Rasulullah, kulitnya putih dan berambut
hitam."
Fatimah, memiliki banyak julukan, julukannya yang
paling masyhur adalah Az Zahra yang artinya bercahaya,berkilau. Ulama berbeda
pendapat dalam sebab dijulukinya Az Zahra, ada yang mengatakan karena Fatimah
adalah bunga Rasulullah, yang lain mengatakan karena fatimah berkulit putih,
pendapat ketiga mengatakan karena apabila fatimah beribadah dalam mihrabnya
(musholah) maka cahayanya menerangi mahkluq yang ada di langit seperti halnya
cahaya bintang menerangi makhluq yang ada di bumi. Selain Az Zahra, fatimah
mendapat julukan Ash Shiddiqah (orang yang percaya), Al Mubarakah, At Thahirah,
Az Zakiyyah, Ar Radhiyah, Al Murdhiyyah.
Di samping julukan-julukan di atas, Fatimah mendapat
julukan Al butul, sebagaimana Siti Maryam mendapat julukan tersebut. Yang
dimaksud dengan al butul di sini adalah memutuskan hubungan dengan dunia untuk
beribadah kepada Allah.
Julukan yang tidak kurang istimewanya dari
julukan-julukan di atas adalah julukan ibu dari bapaknya "ummu abiha"
Para ulama berusaha menafsirkan julukan ini dengan berbagai penafsiran di
antaranya:
1. Fatimah adalah anak bungsu Rasulullah SAW. Dan
ialah satu-satunya anak Rasulullah yang tinggal bersama Rasulullah setelah
Khadijah wafat. Maka ialah yang menggantikan ibunya menyediakan keperluan
Rasulullah SAW. Oleh karena itu Fatimah dijuluki "ummu abiha".
2. Dijuluki "ummu abiha", karena
Rasulullah melalui wahyu sudah mengetaui bahwa hanya Fatimah lah di antara
putra putrinya yang akan meneruskan keturunannya.
3. Dijuluki Rasulullah "ummu abiha",
karena sama namanya denagn ibu asuh Rasulullah Fatimah binti Asad.
Fatimah Az Zahra, anak teladan
Tak sedikit riwayat yang menegaskan keistimewaan
Fatimah di hati Rasulullah, di antaranya adalah riwayat yang menceritakan
ketika Rasul mengajak keluarganya untuk memeluk Islam, dalam khutbahnya yang
masyhur Rasulullah memilih Fatimah di antara putri-putrinya yang lain. Ketika
itu ia berseru "Ya Fatimah binti Muhammad mintalah padaku apa yang kamu
mau, tapi kelak di hadapan Allah aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu."
Atau dalam riwayat lain ketika Rasulullah mendengar kaum Muslim tidak melakukan
hukuman potong tangan karena yang melakukan pencurian berasal dari pembesar
Quraisy, Rasulullah menyatakan statemennya yang spektrakuler: "Apabila
Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya." Dua
peristiwa ini sebagai bukti begitu dekatnya fatimah di hati Rasulullah SAW.
Apakah dengan demikian Fatimah menjadi anak manja
dan besar kepala? Tidak ada waktu bagi seorang putri Rasulullah untuk bermanja,
bayangkan di usianya yang baru menginjak 12 tahun Fatimah sudah mengalami apa
yang kita kenal dengan embargo ekonomi dan sosial kaum quraisy terhadap kaum
Muslimin. Selama tiga tahun ia mengalami kelaparan yang sangat dan menyaksikan
bagaimana kaum muslimin meninggal satu demi satu untuk mempertahankan
aqidahnya.
Belum lagi ia menikmati berakhirnya embargo yang
dilakukan kaum Quraisy, ia harus kehilangan kakek yang dicintainya, Abu Thalib,
motivator dakwah ayahnya, Rasulullah. Yang menambah kesedihannya adalah Abu
Thalib wafat dalam keadaan musyrik menolak untuk masuk Islam. Tidak cukup duka
yang menimpa gadis kecil Fatimah, tak lama kemudian ibunda Khadijah dipanggil
oleh Sang Pencipta. Setelah puas menangis dengan penuh kesabaran ia
menggantikan posisi ibunya dalam menyiapkan segala keperluan Rasulullah SAW.
Walaupun Fatimah berusaha semaksimal mungkin untuk
mengurus segala keperluan Rasulullah, tapi ia menyadari bahwa Rasulullah
memerlukan pendamping, tempat berbagi suka dan duka. Oleh karenanya ketika
Rasulullah menikah lagi, ia tidak menentang sedikitpun dengan apa yang
dilakukan Rasulullah SAW.
Fatimah, sebagaimana disinggung di atas adalah anak
kesayangan Rasulullah, sering Rasulullah mengatakan bahwa: "Fatimah adalah
bagian dariku, apa yang membuatnya marah maka membuatku marah" (HR.
Bukhari, Turmudzi, Ahmad, Hakim). Demikian sebaliknya,sebagai anak berbakti Fatimah
selalu berusaha untuk melakukan apa yang membuat ayahnya senang. Pernah suatu
hari Fatimah berkunjung ke rumah ayahnya, Rasulullah, ketika itu ia memakai
seuntai kalung emas –hanya seuntai kalung sementara wanita yang lain waktu itu
memakai jauh lebih banyak darinya- ia tidak tahu kalau hal itu akan membuat
Rasulullah marah. Ketika keduanya tengah bercengkrama, pandangan Rasulullah
tertuju pada kalung yang dikenakan Fatimah. Air muka Rasulullah langsung
berubah dan beliau langsung membisu. Fatimah mengerti dan minta izin. Sepanjang
perjalanan ia berfikir dan menyimpulkan bahwa Rasulullah marah kepadanya karena
ia mengenakan kalung emas, Fatimah memutuskan untuk menjual kalung tersebut dan
asil penjualannya akan ia belikan seorang budak untuk membantu pekerjaannya.
Tapi keberadaan budak tersebut di rumahnya akan selalu mengingatkan Rasulullah
SAW. Bahwa itu hasil penjualan kalung emas yang menyebabkan kemarahannya.
Akhirnya untuk mendapatkan ridho ayahnya ia memutuskan untuk membeli budak
dengan hasil penjualan kalung dan membebaskan budak tersebut.
Setelah itu pergilah Az Zahra mengunjungi
Rasulullah, Rasulullah langsung mencari-cari kalung yang dikenakan Fatimah
ketika kunjungannya terakhir tetapi ia tidak menemukannya. Belum sempat
Rasulullah bertanya, Fatimah mendahului menjelaskan apa yang ia lakukan dengan
kalungnya. Wajah Rasulullah langsung berubah cerah dan sumringah setelah
mendengar apa yang dituturkan Fatimah. Maka keluarlah ucapan Rasulullah untuk
Fatimah: Anti bintu abik "kamu betul-betul anak bapakmu."
Demikianlah, Fatimah Az Zahra sebagai anak. Ia
meninggalkan perhiasan bukan karena haram baginya, ia tahu mubah hukumnya bagi
wanita mengenakan perhiasan emas, tapi ketika ia mengetahui ayahnya tidak
menyukainya, maka ia rela meninggalkannya.
Fatimah Az Zahra, istri teladan
Sudah lama Ali menyembunyikan keinginan untuk
memperistri Fatimah. Keinginan tersebut bertambah menggebu setelah Rasulullah
menikah dengan Siti 'Aisyah. Bagi Fatimah, Ali bukanlah orang asing, ia adalah
anak paman Rasulullah, Abu Thalib. Keduanya dibesarkan dalam rumah yang sama
dengan orang tua yang sama (Ali dikafil oleh Rasulullah sebagai balas jasa
Rasulullah terhadap Abu Thalib). Tapi apa daya Ali tidak memiliki apa-apa untuk
dijadikan sebagai mahar. Abu Bakar dan Umar mendahului Ali melamar Fatimah,
keduanya ditolak Rasulullah dengan halus. Setelah penolakan itu keduanya
menemui Ali agar melamar Fatimah. Maka pergilah Ali menemui Rasulullah untuk
melamar Fatimah. Karena malu Ali menyampaikan lamarannya dengan cara halus.
Rasulullah hanya menjawab: "Ahlan wamarhaban" lalu keduanya sama-sama
diam. Keesokan harinya Ali kembali menemui Rasulullah, kali ini dengan
terang-terangan ia melamar Fatimah, dan menjadikan baju bsinya sebagai mahar.
Kemudian atas perintah Rasulullah ia menjual baju besinya seharga 470 dirham
untuk keperluan perkawinannya. Demikianlah perkawinan putri Rasulullah, dengan
Ali, pemuda faqir yang hanya memiliki baju besi untuk dijadikan mahar. Ketika
itu usia Fatimah 18 tahun.
Dibanding dengan saudari-saudarinya, dari segi
materi, Fatimah lah yang paling sengsara. Ali tidak mampu membayar pembantu
untuk meringankan pekerjaan Fatimah. Fatimah dengan ikhlas mengerjakan semua
pekerjaan rumah, dibantu oleh Ali sepulang mencari nafkah. Suatu hari Ali
mendengar bahwa Rasulullah mendapat beberapa orang budak. Maka iapun meminta
kepada Fatimah untuk pergi menemui Rasulullah guna meminta salah satu budak
agar bisa meringankan pekerjaan Fatimah. Pergilah Fatimah memenuhi permintaan
Ali, tapi sesampainya di tempat Rasulullah ia malu menyampaikan maksud
kedatangannya, iapun pamit pulang. Sesampainya di rumah ia menceritakannya pada
Ali. Lalu Ali mengajak Fatimah kembali menemui Rasulullah, karena Fatimah diam
saja, akhirnya Ali lah yang meminta kepada Rasulullah untuk memberi mereka
salah satu budak agar bisa meringankan pekerjaan Fatimah. Tapi Rasulullah tidak
bisa mengabulkan permintaan keduanya, karena hasil penjualan budak-budak
tersebut akan dibelikan makanan untuk para fakir miskin. Pulanglah pasangan
tersebut tanpa ada sedikitpun rasa kecewa di hati keduanya. Tapi pemandangan
itu menyentuh hati Rasulullah sebagai seorang ayah. Malamnya Rasulullah
mendatangi putrinya Fatimah, beliau bersabda: "Maukah kalian berdua aku
beri sesuatu yang lebih baik dari apa yang kalian minta?" keduanya
menjawab dengan serentak: "tentu ya Rasulullah." Rasulullah berkata:
"kalimat yang diajarkan Jibril; Membaca tasbih 10 kali, tahmid 10 kali dan
takbir 10 kali setiap selesai sholat. Dan apabila kalian hendak tidur bacalah
tasbih 33 kali , tahmid 33 kali dan takbir 34 kali."
Demekianlah semestinya seorang ayah. Sebagai seorang
ayah, Rasulullah ingin membantu anaknya, tapi apa daya beliau tak memiliki apa
yang anaknya perlukan, tapi beliau berusaha menyenangkan anaknya walau hanya
sekedar dengan perhatian dan kata-kata penyejuk hati.
Sangking susahnya kehidupan keluarga Fatimah dan
Ali. Pernah suatu hari Rasulullah berkunjung ke rumah Fatimah (setelah Hasan
dan Husein lahir), beliau hanya menemukan Fatimah, ketika beliau menanyakan
keberadaan Ali, Hasan dan Husein, Fatimah menjawab: Ali membawa kedua anaknya
berjalan-jalan agar mereka tidak meminta makan, sementara di rumah tidak ada
yang bisa dimakan."
Demikianlah Fatimah, putri Rasulullah dengan sabar
dan qana'ah dan penuh keridhoan, ia jalani kehidupan rumah tangganya dengan
Ali. Maka tak mengherankan betapa sakit hatinya Fatimah ketika Ali berniat akan
menikah dengan wanita lain. Apalagi setelah tahu siapa wanita yang akan
dinikahi Ali, yaitu; putri dari musuh Allah Amr bin Hisyam atau yang lebih dikenal
dengan julukan Abu Jahal.
Adapun Ali, tidak ada niat sedikitpun untuk
menyakiti hati Fatimah apalagi hati Rasulullah SAW. Dalam pandangannya selama
ini, Rasulullah tidak membeda-bedakan antara putrinya dengan yang lain.
Buktinya Rasulullah pernah berkata bahwa apabila Fatimah mencuri, maka akan
dipotong tangannya sebagaimana yang lain. Berarti sebagaimana wanita muslimah
yang lain boleh dimadu demikian halnya dengan Fatimah. Tapi ternyata dugaan Ali
salah, Fatimah sangat marah dengan apa yang diniatkan Ali, demikian halnya
Rasulullah. Rasulullah naik ke mimbar dan berkata: " Aku tidak mengijinkan
Ali menikah dengan anak perempuan bani Hisayam, kecuali jika Ali menceraikan
Fatimah, Aku bukan mengharamkan yang halal, tapi demi Allah tidak bersatu antara
putri Rasulullah dan putri musuh Allah pada satu laki-laki." Begitu
istimewanya Fatimah di hati Rasulullah, sampai beliau tidak tega melihatnya
dimadu. Hal ini merupakan kekhususan Az Zahra sebagaimana kekhususannya dalam
dilarangnya ia mengenakan perhiasan.
Fathimah hanya hidup tidak lebih dari 75 hari
setelah kepergian ayahnya. Pada tanggal 14 Jumadil Ula, tahun 11 Hijrah wanita
suci, wanita agung dan mulia sepanjang masa, menutup mata dalam usia yag
relatif muda yaitu 18 tahun.
Namun sebelum wafatnya beliau mewasiatkan keinginan
kepada Imam ali as yang isinya:
1. Wahai Ali, engkau sendirilah yang harus
melaksanakan upacara pemakamanku.
2. Mereka yang tidak membuat aku rela/ridha, tidak
boleh menghadiri pemakamanku.
3. Jenazahku harus dibawa ke tempat pemakaman pada
malam hari.
Oleh kerana itulah, sehingga sekarang makam sebenar
Siti Fatimah ra tidak dapat digambarkan ketepatan posisi dan kedudukannya di
dalam peta, hanya pendapat dan andaian yang paling popular digunapakai sebagai
makam Siti Fatimah untuk ummat islam menziarahi kuburnya sebagai memperingati
beliau selaku anak Rasulullah s.a.w yang ditinggikan derajatnya oleh Allah swt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar